Para psikopatolog mendefinisikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang diperantarai oleh rasa takut yang tidak proporsional dengan bahaya yang dikandung oleh objek atau situasi tertentu dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang tidak berdasar. Beberapa contoh adalah ketakutan ekstrem terhadap ketinggian, tempat tertutup, ular, laba-laba—mengingat tidak ada bahaya objektif -- disertai dengan penderitaan cukup besar untuk mengganggu kehidupan seseorang.
Kriteria DSM-IV-TR untuk fobia
- Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi
- Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
- Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens
Selama bertahun-tahun berbagai istilah kompleks telah diformulasikan untuk menyebut berbagai pola penghindaran yang sebenamya tidak perlu ini. Dalam tiap kasus, kata fobia diawali dengan kata dalam bahasa Yunani yang menyebutkan objek atau situasi yang ditakuti. Kata fobia diambil dari nama dewa Yunani Phobos, yang takut kepada musuh-musuhnya. Beberapa istilah yang penting dikenal adalah claustro phobia, ketakutan pada ruang tertutup; agoraphobia ketakutan pada tempat umum; dan acrophobia, ketakutan pada ketinggian. Beberapa ketakutan yang lebih eksotik juga diberi nama yang diambil dari bahasa Yunani, sebagai contoh, ergasiophobia, ketakutan menulis; pnigophobia, ketakutan tersedak; taphephobia, ketakutan dikubur hidup-hidup; Anglophobia, ketakutan pada Inggris; musophobia, ketakutan pada tikus; dan hellenologaphobia, ketakutan pada kondisi ilmiah semu (McNally,1997). Beberapa istilah otoritatif semacam itu teramat sering mengesankan hahwa kita memahami bagaimana awal mula terjadinya suatu masalah tertentu atau bahkan bagaimana menanganinya hanya karena kita memberikan nama yang terkesan otoritatif. Hal ini sangat jauh dari kebenaran. Sebagaimana dengan begitu banyak teori dalam bidang psikologi abnormal, terdapat Iebih banyak teori dan istilah mengenai fobia dibanding temuan-temuan yang pasti.
Para psikolog cenderung memfokuskan pada berbagai aspek fobia yang berbeda tergantung pada paradigma yang mereka anut. Para psikoanalitis berfokus pada isi fobia. Mereka melihat signifikansi yang besar dalam objek yang ditakuti sebagai suatu simbol ketakutan bawah sadar yang penting. Dalam sebuah kasus terkenal yang dilaporkan oleh Freud, seorang anak laki-laki yang disebutnya Little Hans memiliki ketakutan bertemu dengan kuda bila ia pergi ke luar rumah. Freud memberikan perhatian khusus pada kata-kata Hans mengenai "sesuatu yang berwama hitam di sekeliling mulut kuda dan sesuatu di depan matanya." Kuda dianggap mewakili ayahnya, yang berkumis dan berkacamata. Freud berteori bahwa ketakutan pada ayah telah dialihkan pada ketakutan terhadap kuda yang kemudian dihindari Hans. Berbagai contoh lain semacam itu yang tak ter hitung jumlahnya mungkin dapat diberikan. Poin utamanya adalah para psikoanalis percaya bahwa isi fobia memiliki nilai simbolik penting. Di sisi lain para behavioris, cenderung mengabaikan isi fobia dibanding memfokuskan pada fungsinya. Bagi mereka, ketakutan pada ular dan ketinggian memiliki kesamaan dalam kaitan bagaimana terjadinya, bagaimana ketakutan tersebut dapat dikurangi, dan sebagainya. Dengan mengingat hal-hal tersebut, mari kita bahas dua tipe fobia: fobia spesifik dan fobia sosial.