Etiologi



Teori Psikoanalisis. Menurut Freud, fobia merupakan pertahanan terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls-impuls id yang ditekan. Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan dipindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Berbagai objek atau situasi ini—sebagai contoh, lift atau tempat tertutup—kemudian menjadi stimuli fobik. Dengan menghindarinya seseorang dapat menghindar dari konflik-konflik yang ditekan. Fobia adalah cara ego untuk menghindari konfrontasi dengan masalah sebenamya, yaitu konfik masa kecf yang ditekan. Sebagai contoh, Freud menduga bahwa Little Hans, yang disebutkan sebelumnya, tidak berhasf mengatasi konflik Oedipal sehingga ketakutannya yang intens pada ayahnya dialihkan ke kuda dan ia menjadi fobik untuk keluar rumah.

Teori Behavioral. Teori behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia. Beberapa tipe pembelajaran mungkin berperan.
Avoidance Conditioning. Penjelasan utama behavioral tentang fobia adalah reaksi semacam itu merupakan respons avoidance yang dipelajari. Dalam sejarah, demonstrasi Watson dan Rayner (1920) mengenai pengondisian terhadap suatu rasa takut atau fobia yang terlihat jelas pada Little Albert dianggap sebagai model mengenai bagaimana fobia dapat terjadi. Formulasi avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang diajukan oleh Mowrer (1947) dan menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian pembelajaran yang saling berkaitan.
1. Melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk takut pada suatu stimulus netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan dengan keadian yang secara intrinsik menyakitkan atau menakutkan (UCS)
2. Seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri dari atau menghindari CS. Jenis pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai operant conditioning; respons dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi ketakutan yang menguatkan.
Mungkin ketiadaan suatu UCS bukan merupakan hal penting karena kunci atas ketakutan yang dikondisikan adalah UCR (Forsyth & Eilert, 1998). Yaitu, seseorang yang mengalami episode ketegangan fsiologis yang mendalam (UCR), karena beberapa alasan yang tidak disadarinya, dapat secara salah menyimpulkan bahwa situasi yang tidak berbahaya telah menyebabkan ketegangan dan ketakutan tersebut sehingga dapat menimbulkan fobia. Namun, jika situasi yang dihadapi seseorang tidak bersifat traumatis, tidak terdapat UCS yang jelas.
Kemungkinan solusi lain untuk memecahkan teka-teki fobia yang terjadi tanpa keterpaparan dengan UCS yang menakutkan adalah melalui modeling. 
Modeling. Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat pengalan yang tidak menyenangkan dengannya, ketakutan dapat dipelajari dengan meniru reaksi orang lain. Dengan demikian, beberapa fobia dapat terjadi melalui modeling bukan melalui pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap objek atau situasi yang ditakuti. Seperti disampaikan sebelumnya  berbagai macam perilaku, termasuk respons-respons emosional, dapat dipelajari dengan menyaksikan suatu model. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious learning.
Vicarious learning juga dapat terjadi melalui instruksi verbal; yaitu, reaksi fobik dapat dipelajari melalui deskripsi yang diberikan orang lain tentang apa yang mungkin terjadi selain melalui observasi terhadap ketakutan orang lain. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, orang tua dapat berulang kali memperingatkan anaknya agar tidak melakukan beberapa aktivitas yang membahayakan.
Pembelajaran yang Dipersiapkan (prepared learning). lsu lain yang tidak dibahas dalam model pembelajaran avoidance adalah bahwa orang-orang cenderung hanya takut pada objek atau situasi tertentu, seperti laba-laba, ular, dan ketinggian, namun tidak pada objek lain, seperti domba (Marks, 1969). Fakta bahwa stimulus tertentu yang netral, disebut stimuli yang dipersiapkan, lebih mungkin dibanding stimuli lain untuk menjadi stimuli yang dikondisikan secara klasik yang mungkin berperan terhadap kecenderungan ini. Sebagai contoh, tikus belajar menghubungkan rasa dengan kondisi mual bukan dengan sengatan bila keduanya diberikan bersamaan (Garcia, McGowan, & Green, 1972). Beberapa ketakutan bisa saja sangat mencerminkan classical conditioning, namun hanya pada stimuli yang secara fisiologis memang sensitif bagi suatu organisme (Seligman, 1971). Eksperimen pengondisian yang menunjukkan extinction rasa takut secara cepat mungkin menggunakan berbagai CS yang tidak siap dihubungkan dengan UCS oleh organisme bersangkutan.
Diperlukan Diathesis. Pertanyaan terakhir untuk dibahas adalah mengapa beberapa orang yang memiliki pengalaman traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Sebagai contoh, 50 persen di antara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan anjing, begitu juga dengan 50 persen di antara orang-orang yang tidak takut anjing (DiNardo dkk., 1988). Perbedaan di antara dua kelompok tersebut adalah kelompok fobik berfokus pada dan menjadi cemas terhadap kemungkman munculnya kejadian traumatis yang sama pada masa mendatang. Dengan demikian, suatu diathesis kognitf—meyakini bahwa kejadian traumatis yang sama akan terjadi pada masa mendatang—mungkin merupakan hal penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis psikologis lain adalah adanya riwayat yang menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan (Mineka & Zinbarg, 1996).
Secara ringkas, data yang telah kita kaji menunjukkan bahwa beberapa fobia mungkin dipelajari melalui avoidance conditioning. Namun, avoidance conditioning tidak dapat dianggap sebagai teori yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Sebagai contoh, seperti disebutkan sebelumnya, banyak orang yang menderita fobia menuturkan bahwa mereka tidak pernah terpapar langsung dengan kejadian traumatis atau dengan model yang menakutkan (Merekelbach dkk., 1989). Terlebih lagi, model avoidance conditioning memiliki kesulitan menangani komorbiditas di antara berbagai jenis fobia.

Keterampilan Sosial yang Kurang dalam Fobia Sosial. Kita beralih pada pembahasan model behavioral mengenai fobia sosial yang menganggap bahwa perilaku yang tidak tepat atau kurangnya keterampilan sosial sebagai penyebab kecemasan sosial. Menurut pandangan tersebut, individu tidak pernah belajar bagaimana berperilaku agar ia merasa nyaman dengan orang lain, atau orang tersebut berulang kali melakukan kecerobohan, kikuk dan secara sosial tidak kompeten, serta sering dikritik oleh rekan-rekan sosial. Dukungan terhadap model ini berasal dari berbagai penemuan yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor rendah dalam tingkat keterampilan sosial (Twentyman & McFall, 1975) dan bahwa mereka tidak mampu memberikan respons pada waktu sceta tempat yang tepat dalam interaksi sosial, misalnya mengatakan “terima kasih” pada waktu yang tepat. (Fischetti, Curran, Sr Wessberg, 1977).
Perhatikan bagaimana perspektif rendahnya keterampilan sosial ini terkait dengan teori avoidance conditioning yang telah dikaji sebelumnya. Seseorang yang keterampilan sosialnya rendah memiliki kemungkinan menciptakan situasi yang menakutkan bersama orang lain. Sebagai contoh, tidak mengetahui bagaimana cara merespons dengan spontan, namun asertif terhadap permintaan orang lain dapat melukai perasaan orang lain, dan memicu situasi interpersonal yang tidak menyenangkan, bahkan konflik yang menegangkan. Dapat diduga bahwa hukuman yang diterima dari orang lain akan membuat orang tersebut lebih merasa takut berinteraksi dengan mereka.

Teori Kognitif. Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berpikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih hesar untuk menanggapi stimuli negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan memercayai bahwa kejadian negatf memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; Turk dkk.,2001). lsu utama dalam teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas.
Berbagai studi terhadap orang-orang yang mengalami kecemasan sosial telah meneliti faktor-faktor kognitif yang berkaitan dengan fobia sosial. Orang-orang yang mengalami kecemasan sosial lebih khawatir terhadap penilaian orang lain dibanding orang-orang yang tidak memiliki kecemasan sosial (Goldfried, Padawer, & Robins, 1984), lebih memerhatikan citra yang mereka tunjukkan pada orang lain (Bates, 1990), dan cenderung melihat diri mereka secara negatif walaupun mereka tampil dengan baik dalam suatu interaksi sosial (Wallace 61 Alden, 1997).
               
Faktor-faktor Biologis yang Memengaruhi. Berbagai Teori yang telah kita bahas terutama melihat pada lingkungan untuk menemukan penyebab dan yang membuat fobia menetap. Namun, mengapa beberapa orang memiliki ketakutan yang tidak realistik, sedangkan yang lain tidak, padahal mereka mendapat kesempatan pembelajaran yang sama? Mungkin mereka yang secara negatif sangat terpengaruh oleh stres memiliki malfungsi biologis (suatu diathesis) yang dengan cara satu atau lainnya memicu terjadinya fobia setelah kejadian yang penuh stres. Penelitian dalam dua area berikut tampaknya menjanjikan: sistem saraf otonom dan faktor genetik.
Sistem Saraf Otonom. Seperti disebutkan sebelumnya, orang-orang yang mengalami fobia sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah atau berkeringat secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan merupakan suatu diathesis. Namun demikian, sebagian besar bukti tidak menunjukkan bahwa orang-orang yang menderita fobia sangat berbeda dalam pengendalian berbagai bentuk aktivitas otonomik, walaupun saat berada dalam situasi seperti berbicara di depan umum yang diharapkan akan terjadi perbedaan. Mungkin ketakutan terhadap memerahnya wajah atau berkeringat sama pentingnya dengan wajah yang benar-benar memerah atau berkeringat. 
Faktor Genetik. Beberapa studi telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familial; 64 persen pasien fobia darah dan penyuntikan memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang menderita gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam populasi umum hanya 3 sampai 4 persen (Ost, 1992). Sama dengan itu, baik untuk fobia sosial maupun fobla spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga tingkat pertama pasien, dan studi terhadap orang kembar menunjukkan kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar MZ dibanding kembar DZ (Hettema M. Neale, Gt Kcndler, 2001).

Sumber : Psikologi Abnormal Edisi ke-9 : Gerald C Davidson, John M. Neale, Ann M Kring : 2006